TUGAS LK3



BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang

Secara UMUM, kesehatan kerja bertujuan mempromosikan dan meningkatkan kesejahteraan para pekerja secara fisik ,mental dan sosial. Untuk itu, para pekerja ditempatkan pada ruang kerja dengan kondisi fisiologi dan psikologiyang sesuai, serta dilindungi dari faktor-faktor yang mengganggu kesehatan dan keselamatan kerja.
Pada dasarnya, di dalam lingkungan kerja terdapat berebagai faktor bahaya yang dapat merusak kondisi kesehatan dan produktivitas dari tenaga kerja, gangguan kesehatan,  penyakit, keracunan, bahkan kematian akibat kerja.
Oleh karena itu, semakin banyak tuntutan dalam mencegah terjadinya kecelakaan yang beraneka ragam bentruk maupun jenis kecelakaannya. Sejan dengan itu, perkembangan pembangunan yang dilaksanakan tersebut,maka disusunlah UU No. 14 tahun 1969 tentang pokok-pokok mengenai tenaga kerja yang selanjutnya mengalami perubahan menjadi UU No. 12 tahun 2003 tentang tenaga kerjaan.
Dalam pasal 86 UU No. 13 tahun 2003, dinyatakan bahwa tiap pekerja memiliki hak untuk memperoleh perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja, moral, dan kesusilaan serta perlakuan yang sesuai dengan harkat, martabat dan nilai-nilai agama.
Adanya aturan atau undang-undang tersebut mengatur syarat-syarat keselamatan kerja mulai dari perencanaan, pengangkatan, pengangkutan, peredaran, perdagangan, penggunaan, pemeliharaan, penyimpanan bahan baku, hingga aparat produksi yang dapat mengandung dan dapat menimbulkan bahaya kerja.
Meskipum telah banyak peraturan yang telah dibuat, namun dalam pelaksanaanya masih jauh dari yang diharapkan. Masih banyak terdapat kelemahan dan kekurangan karena terbatasnya pengawasan sumber daya manusia serta sarana dan prasarana K3 yang ada. Oleh karena itu, masih diperlukan upaya-upaya dalam memberdayakan lembaga-lembaga K3 yang ada di masyarakat, meningkatakan sosialisasi tentang pentingnaya K3, serta kerja sama dengan mitra bambu guna membantu pelaksanaan pengawasan norma K3 agar berjalan dengan baik.


1.2  Tujuan

Penyusunan makalah ini bertujuan untuk mengetahui penerapan sistem kesehatan dan kesalamatan kerja di CV.SURATIN BAMBU, menganalisis potensi bahaya yang terjadi di setiap tahapan proses produksi, serta berusaha mencari solusi dalam penanggulangan, penerapan penggunaan APD sehingga dapat mengurangi kecelakaan akibat kerja, sehingga produktivitas kerja dapat dicapai secara optiamal.

1.3  Metode Penulisan

Metode penulisan makalah ini menggunakan metode observasi yaitu dengan melakukan pengamatan langsung ke CV. SURATIN BAMBOO dan melakukan wawancara serta study pustaka dengan mengumpulkan beberepa literatur mengenai lingkungan kesehatan dan keselamatan kerja dari beberapa sumber.

1.4  Waktu dan Tempat

CV.SURATIN BAMBOO terletak di jalan Pangeran Sogiri Tanah Baru, Bogor Utara. Observasi dilakukan sebanyak 2 kali yaitu pada hari sabtu , 4 Desember 2010 Pukul 11.00-11.45 Wib,dan Observasi kedua dilaksanakan pada hari Senin, 3 Januari 2011, Pukul 14.10-15.00 Wib.


BAB II
HASIL PENELITIAN


2.1 Sejarah Perkembangan PT.SURATIN BAMBOO

CV.SURATIN BAMBOO adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang Furniture dengan bahan baku bambu. Pemiliknya bernama Drs.H. Kosasi. Perusahaan ini dimulai pada tahun 1990 dengan berawal dari industri rumahan, modal awal yang digunakan sebesar Rp.200.000,00. Bapak Kosasi memulai usahanya karena terinspirasi oleh produk furniture butan Tasik Malaya, Jawa Barat, sehingga beliaw mempelajari cara pembuatannya secara otodida. Peluang membuka usaha ini sangat besar, karena produk yang dihasilkan memiliki nilai seni yang tinggi walaupun bahan baku yang digunakan murah serta pesaingnya sedijit dan nilai jualnya tinggi.
Produk yang dihasilkan awalnya berupa kipas hiasan dan tempat majalah. Tenaga kerjanya pun awalnya hanya 2 orang. Sejalan dengan perkembangan usahanya beliau menambah jenis produk yang dihasilkan, seperti :meja, kursi, tempat tidur, gazebo, dan berbagai jenis handy craft selain itu, beliau juga menambah jumlah pekerja dan memperluas daerah pemasaran.
Bapak Kosasi mendaftarkan perusahaannya ke Departemen Perindustrian (517/72/PK/DISPERINDAGKOP) dengan nama Suratin yang berasal dari nama ketiga anaknya yaitu : Susi, Rody Dan Tina. Tahun 2003 perusahaan tersebut resmi menjadi CV. SURATIN BAMBOO.
Semakin lama usaha beliau semakin berkembang dan daerah pemasarannya pun tidak hanya di dalam negeri saja tapi juga keluar negeri seperti: Austria, Belanda dan Australia. Oleh karena itu, beliau memindahkan tempat usahanya dari home industry menjadi sebuah CV. Dengan tujuan untuk memenuhi permintaannya yang cukup besar. Selain itu aspek lingkungan pun tidak lupa diperhatikan oleh beliau dan kesejahteraan pekerjanya juga diperhatikan walaupun hingga saat ini beliau masih belum mampu menyediakan asuransi kecelakaan bagi para pekerjanya.




2.2  ASPEK PRODUKSI

Proses produksi pada dasarnya adalah suatu kegiatan untuk mengubah (mengolah)bahan baku menjadi produk yang bernilai guna.Dalam melakukan proses produksi diperlukan suatu rancangan yang bertahap diamana rancangan tersebut bergantung pada karakteristik produk yang dihasilkan dan pola kebutuhan yang harus dipenuhi.
Proses produksi yang dilakukan oleh CV. SURATIN BAMBOO yang bergerak dalam bidang furniture hanya memerlukan peralatan sederhana karena lebih banyak penerapan keahlian atau keterampilan tangan para pekerjanya untuk menghasilkan produk kerajinan.



Diagram Alir Proses Produksi



 

Calon pembeli / pemesan
 
                                                                                 








         Model Mebel
           (Pengrajin)
 

 

Model mebel             
(Buyer)
 
                                                                                   















 

Pembuatan bagian mebel
 
















                                                                                                                


2.2.1 Persiapan Bahan Baku dan Bahan Pembantu

Bambu yang di gunakan sebagai bahan baku adalah bambu jenis gombong mayong yang diperoleh diwilayah kabupaten Bogor , Sukabumi, dan Cirebon
Bahan pembantu  berupa tali rotan dan rotan antik umumnya di peroleh dari Cirebon melalui pedagang langsung.

2.2.2 Proses Produksi

1.      Pengeringan
Bambu yang digunakan untuk pembuatan furniture umumnya dipotong setelah berumur 13 bulan dengan pertimbangan bahwa bambu tersebut telah memiliki umur dan ketebalan batang yang cukup untuk diolah menjadi produk furniture.  Pada daerah tropis, tanaman bambu biasanya kurang tahan lama karena mengandung kanji yang disukai oleh rayap dan menjadi tempat tumbuh yang baik cendawan akibat suhu dan kelembapan tinggi srhingga diperlukan proses pengeringan dan pengawetan bambu agar menjadi lebih keras dan mampu bertahan hingga lebih dari 10 tahun.
Bambu yang telah dipotong cukup disandarkan dalam  keadaan berdiri agak tegak tempat yang cukup teduh dan dibiarkan sampai kadar airnya berkurang. Untuk menghindari kelembapan tanah yang naik ke batang, sebaiknya batang bambu dilindungi dengan menggunakan batu pada bagian bawah batang yang telah dipotong. Proses pengeringan dilakukan selama 4 – 7 hari, apabila hujan, proses pengeringan lebih lama. Pengeringan juga dilakukan dengan menggunakan oven agar waktu pengeringan lebih efektif dan efisien.

2.      Pengawetan / Penyimpanan
       Pengawetan bambu dilakukan selama 2 – 4 minggu dengan cara direndam ke dalam kolam yang menggenang dengan ditambahkan obat anti rayap yang mengandung Natrium boraks dan asam boraks agar kualitas bambu tahan lama.

3.      Proses pembuatan furniture
Dalam menjalankan proses produksi, para pekerja furniture bambu melakukan teknik yang sama, yaitu pembuatan rangka mebel, pengikatan dengan rotan tali, penyusutan iratan pada alas kursi dan meja serta iratan pada sandaran kursi yang sudah diukir.Pada tahapan akhir dilakukan proses finishing dengan cara mengamplas, bamboo vernis atau melamin serta proses pengeringan.

4.      Finishing
Proses finishing dilakukan apabila seluruh proses perakitan sudah selesai dilakukan dan telah mendapat pengecekan dari pekerja. Proses finishing yang dilakukan meliputi kegiatan :
·         Mengampelas seluruh ruas bambu agar halus. Cara mengmpelas tidak boleh terlalu keras karena bamb merusak warna bambu yang sudah alami
·         Bambu vernis atau melamin pada seluruh lapisan bambu menggunakan kuas, dengan maksud untuk mempercantik furnuture serta memberikan lapisan pada kulit bambu agar kuat dan tahan lama.
Setelah proses finishing dilakukan, furniture bambu tidak boleh terkena sinar matahari secara langsung karena akan memudahkan terjadinya pecah – pecah pada lapisan yang telah divernis/melamin, furniture cukup ditata di tempat penyimpanan atau di ruang pamer sehingga dapat terkena hembusan angin secara langsung. Vernis/melamin tersebut akan kering dalam waktu 2-3 jam.

5.      Packaging
Produk yang telah jadi, akan dikemas menggunakan kardus. Packaging dilakukan hanya untuk barang-barang yang akan di ekspor dan dikirim ke luarkota.

6.      Ekspedisi
Semua barang yang akan dikirim akan diatur masalah administrasinya seperti surat jalan, tanda bukti, dan faktur penjualan.

7.      Pengiriman
Barang (produk) yang telah dikemas, dikirim sampai ke tempat konsumen.

2.3 Produk
 Jenis-jenis produk kerajinan tangan yang dihasilkan oleh CV.  SURATIN BAMBOO antara lain lemari, tempat tidur,  meja, kursi, pajangan, gazebo, dan berbagai macam handicraft.
2.4 Penanganan Limbah Produksi

Proses penanganan limbah yang telah dilakukan oleh CV. SURATIN BAMBOO telah cukup baik. Perusahaan tersebut telah mampu memanfaatkan limbah hasil produksi menjadi barang yang bernilai ekonomis tinggi dan mampu memanfaatkannya menjadi bahan pembantu dalam proses produksi,misalnya sisa hasil pengikatan dengan tali rotan dimanfaatkan lagi sebagai bahan bakar dalam pengeringan menggunakan oven. Dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan penanganan limah produksi oleh CV. SURATIN BAMBOO hanya tinggal dilanjutkan lagi dan lebih dikembangkan lagi.










                                                  BAB III
                                           PEMBAHASAN


3.1. Dasar Teori

Keselamatan dan kesehatan kerja diflosofikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan, baik jasmani maupun rohani tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju masyarakat makmur dan sejahtera.
Pada prinsipnya, tanggung jawab terhadap kesehatan dan keselamatan kerja ada pada setiap orang. Setiap pekerja harus berpartisipasi dalam setiap kegiatan kesehatan dan keselamatn kerja, serta bertanggung jawab atas kesehatan dan keselamatan dirinya masing-masing di lingkungan kerjanya. Didalam suatu industri senantiasa terdapat kegiatan-kegiatan yang melibatkan berbagai peralatan teknik dan sumber daya manusia, maka secara keseluruhan beban tanggung jawab atas operasi perusahaan akan berada pada pimpinan perusahaan. Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dapat menjamin keselamatan dan kesehatan tenaga kerja meupun orang lain yang berada di tempat kerja.
Tujuan utama dari program keselamatan dan kesehatan kerja secara umum adalah mengurangi kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja, yang berarti melindungi manusia dan harta benda serta lingkungan. Program tersebut mempunyai keuntungan diantaranya :
-          Mengurangi hilangnya jam kerja akibat kecelakaan kerja atau penyakit akjbat kerja
-          Pelaksanaan pekerjaan yang efektif yang lebih efektif
-          Mengurangi biaya pengobatan dan asuransi
-          Menjaga motivasi kerja
Oleh karena itu, sudah sewajarnya semua pihak dalam lingkungan kerja, artinya mulai dari manajer tertinggi hingga pekarja yang bertanggung jawab untuk melaksanakan program keselamatan dan kesehatan kerja.
Adanya manajemen berkewajiban menumbuhkan kesadaran dan kondisi yang positif diseluruh lingkungan kerja.
 Setelah mengetahui tujuan dari program kesehatan dan keselamatan kerja, diharapkan semua pihak mengetahui sasaran dari program kesehatan dan keselamatan kerja itu sendiri. Adapun sasaran dari kesehatah dan keselamatan kerja antara lain :
-       Mencegah terjadinya kecelakaan kerja
              
-       Mencegah timbulnya penyakit akibat kerja

-       Mencegah atau mengurangi angka kematian

-       Mencegah atau mengurangi jumlah penderita cacat tetap

-       Mengamankan material, konstruksi, pemakaian, pemeliharaan bangunan, alat-alat kerja, mesin-mesin, dan instalasi-instalasi

-       Meningkatkan produktivitas kerja tanpa memeras tenaga kerja dan menjamin kehidupan produktifnya
-       Mencegah pemborosan tenaga kerja, modal, alat-alat, dan sumber-sumber produksi lainnya sewaktu kerja

-       Menjamin tempat kerja yang sehat, bersih, aman, dan nyaman sehingga dapat menimbulkan kegembiraan semangat kerja

-       Memperlancar, meningkatkan, dan mengamankan produksi, industri, serta pembangunan.

Setelah mengetahui sasaran-sasaran dari keselamatan kerja, maka kita dapat mengetahui jenis keselamatan kerja.Adapun jenis keselamatan kerja yaitu :
·      Keselamatan kerja dalam industri bamboo (Industry Safety)
·      Keselamatan kerja dipertambangan (Mining Safety)
·      Keselamatan kerja dalam bangunan (Building and contruction safety)
·      Keselamatan kerja lalu lintas (Traffic Safety)
·      Keselamatan kerja penerbangan (Fligh Safety)
·      Keselamatan kerja kereta api (Railway Safety)
·      Keselamatan kerja dirumah (Mome Safety)
·      Keselamatan kerja dikantor (Oficce Safety)

3.1.1 Arti dan tujuan keselamatan kerja
                
Menjamin keadaan, keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah pekerja serta hasil karya & budayanya, yang tertuju pada kesejahteraan masyaraakat pada umumnya dan manusia pada khususnya.

3.1.2 Defenisi keselamatan kerja

Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berhubungan dengan peralatan, tempat kerja & dan lingkungan, serta cara-cara melakukan pekerjaan.
 
3.1.3 Tujuan keselamatan kerja

1.    Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatannya dalam melaksanakan pekerjaan
2.    Menjamin keselamatan setiap orang yang berada ditempat kerja
3.    Sumber produksi dipelihara secara aman dan efisien

Untuk mrngetahui kinerja K3 di perusahaan dan menemukan bahaya-bahaya potensial yang masih tersembunyi, serta mencari alternatif yang tepat guna bagi upaya pengendalian bahaya-bahaya potensial tersebut, maka dilakukan audit safety.

Sebab-sebab terjadinya kecelakaan atau penyakit akibat kerja antara lain :
-            Sikap dan tingkah laku pekerja. Sikap lalai, menganggap remeh setiap kemungkinan bahaya, dan enggan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) merupakan penyebab kecelakaan kerja sering terjadi.

-            Keadaan lingkungan kerja yang tidak aman. Keadaan lingkungn kerja yang tidak aman dapat disebabkan oleh bahan, teknik, dan alat yang digunakan. Selain itu, kondisi tempat kerja yang tidak memadai, contohnya tempat kerja yang pengap dan terpolusi merupakan penyebab keadaan yang berpotensi menimbulkan bahaya.

-            Peralatan (sarana) yang tidak aman. Peralatan yang rusak atau tidak sesuai denagn yang dianjurkan dapat menyebabkan kecelakaan bagi pekerja yang menggunakannya.

-            Supervisor (pengawas). Supervisor memegang peranan penting dalam menjaga keamanan pelaksanaan pekerjaan. Supervisor akan memberikan instruksi kepada pekerja tentang prosedur dan cara kerja yang benar. Apabila instruksi yang diberikan tidak sesuai, maka dapat menimbulkan kecelakaan bagi tiap pekerja. Selain itu, pengawasan yang berlebih yang dilakukan oleh supervisor terhadap para pekerja dapat mengganggu konsentrasi pekerja dalam
melaksanakan tugasnya, sehingga dapat menimbulkan kecelaakaan kerja.

-            Kurangnya pelatihan. Pelatihan diberikan kepada para pekerja dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman pekerja terhadap suatu pekarejaan yang akan dia lakukan. Dengan adanya pelatihan yang cukup, keterampilan pekerja akan meningkat dan dia akan mahir terhadap apa yang seharusnya dia kerjakan, sehungga angka kecelakaan kerja dapat diminimalkan.


3.1.4        Pencegahan Terhadap Kecelakaan Kerja
            Untuk mengendalikan dampak yang dapat disebabkan oleh kecelakaan kerja dalam suatu proses produksi, dapat dicegah dengan beberapa cara berikut yaitu :
-            Eliminasi yaitu memodifikasi proses, metode atau materi untuk mengurangi dampak LK3
-          Substitusi yaitu mengganti materi (bahan baku) atau proses dengan yang tidak atau kurang memberikan dampak negatif
-          Pemisahan yaitu menyingkirkan atau memisahkan dampak LK3 yang mungkin terjadi dengan cara memberi perlindungan, menyimpan di suatu tempat pada ruang atau waktu yang terpisah
-          Administrasi yaitu menyesuaikan waktu dan kondisi dengan proses administrasi, misalnya dengan membutkan standard operation atau work instruction
-          Pelatihan yaitu memberi pelatihan yang memadai untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guna mengurangi resiko terkena dampak LK3
-          Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yaitu menyediakan alat pelindung diri yang sesuai dan memadai bagi seluruh karyawan guna menghindari keparahan dari dampak Lk3 yang mungkin terjadi. Alat pelindung diri ini digunakan sebagai upaya terakhir pengendalian dampak LK3.

Setelah mengetahui dampak dari kecelakaan kerja yang dapat terjadi di suatu proses produksi dalam sebuah perusahaan, diharapkan setiap pekerja mampu menerapkan segala macam peraturan yang telah disepakati dan sudah merupakan suatu kewajiban bagi para pekerja untuk memperhatikan instruksi untuk bekerja dengan benar dan aman; bertindak benar, tepat pada waktu terjadi kecelakaan; segera melapor kepada instruktur bila terjadi kecelakaan;  dan menyampaikan penyebab terjadinya kecelakaan atau kerusakan.

Selain itu, juga terdapat syarat-syarat dalam keselamatan kerja yang dapat digunakan sebagai pedoman bagi setiap personil yang ada dalam lingkungan kerja. Adapun syarat-syarat keselamatan kerja antara lain :
s   

3.2 Potensi Bahaya Dan Penanganannya
Setiap tahapan dalam proses produksi memiliki potensi bahaya yang berbeda-beda bergantung tingkat keseringan pekerjaan itu dilakukan. Sistem K3 yang diberlakukan di CV. SURATIN BAMBOO ini cukup baik, sehingga potensi bahaya yang dihasilkan cukup kecil. Walaupun demikian, dalam tiap tahapan proses produksi memiliki tingkat bahaya terhadap para pekerja. Karena potensi bahaya tersebut, diperlukan suatu penanganan dan berusaha meminimalkan potensi bahaya tersebut agar tujuan dan sasaran dari K3 sendiri dapat terwujud. Oleh karena itu,kami melakukan analisis terhadap potensi bahaya dari tiap-tiap tahapan proses produksi di CV.SURATIN BAMBOO dan mengelompokkannya agar lebih mudah mengetahui dan mencari solusi penanganannya.

Potensi bahaya dapat disebabkan oleh beberapa kemungkinan,antara lain:
·           Sikap dan tingkah laku para pekerja,seperti:sikap lalai(sembrono),enggan memakai APD,tidak mematuhi peraturan yang ada.
·           Kondisi lingkungan kerja yang tidak aman(bahaya),seperti:bekerja pada tempat yang sama dengan tempat penyimpanan bambu.
·           Bahan baku yang digunakan memang berpotensi bahaya, yaitu duri-duri pada bambu menyebabkan luka dan adanya lugut dapat mengakibatkan gatal-gatal.
·           Peralatan yang digunakan berpotensi bahaya.
·           Kurangnya keahlian pekerja. Apabila suatu pekerjaan dikerjakan oleh suatu pekerja ahli, maka rasa aman akan selalu ada disetiap tahapan kegiatan kerja.
·           Pengawas/supervisi. Adanya instruksi yang salah dari supervisi dapat mengakibatkan kesalahan fatal dalam proses produksi,sehingga berpotensi bahaya selain itu,pengawasan supervisi juga sangat berpengaruh terhadap pekerja yang melakukan kegiatan produksi.

Potensi-potensi bahaya dalam tahapan-tahapan proses produksi serta cara penangannya sebagai berikut:
1.         Mengalami cidera akibat tertimpa bambu ketika menurunkan bumbu dari truk ke tempat produksi, bahkan pada semua tahapan produksi.
Cara penanganan :   
·       Menggunakan APD berupa safety helmet
·        Penerapan rapi dalam penyimpanan bambu
·        Pemisahan ruang penyimpanan bambu dengan tempat produksi

2.     Mengalami cidera (luka) saat pengupasan kulit dan pemotongan bambu
      Cara penanganan :
·         Menggunakan sarung tangan
·         Sikap hati-hati
·         Menggunakan peralatan yang sesuai

3.      Mengalami gangguan pernafasan
Cara penanganan :
·      Gunakan masker/kain untuk melindungi hidung
·      Ventilasi dan sirkulasi udara harus baik
·      Sedia tabung oksigen

4.      Mengalami gatal-gatal akibat lusut bambu
Cara penanganan :
·         Gunakan sarung tangan
·         Gunakan pakaian berlengan panjang
·         Menyediakan tempat cuci tangan dan sabun

5.      Mengalami luka /goresan akibat sisa-sisa pengupasan bambu yang berserakan

0 komentar:

Poskan Komentar